Showing posts with label Info Menarik. Show all posts
Showing posts with label Info Menarik. Show all posts

Tips Foto Efek Starburst: Membuat Lampu Tampak Seperti Bintang


Membuat sumber cahaya malam hari tampak berpendar seperti bintang membuat foto malam kita tampak lebih keren. Efek ini biasanya disebut efek starburst. Untuk membuat starburst, hal mendasar yang harus kita pahami adalah membuat bukaan lensa sekecil mungkin, artinya kita sebaiknya menggunakan angka aperture yang besar (f/11 s.d f/22) dan sebaiknya memanfaatkan lensa yang memiliki focal length lebih pendek.

Kenapa harus seperti itu? well, penjelasannya akan panjang. Singkatnya adalah secara fisika cahaya akan mengalami difraksi (penyebaran) saat melewati lubang sempit (hmm sempit…). Sifat penyebaran cahaya inilah yang membuat sumber cahaya (lampu, bulan, matahari) akan terlihat berpendar dan memiliki lidah, jumlah lidah akan bergantung pada jumlah bilah (blade) aperture dalam lensa anda, lihat spek lensa yang anda miliki, pasti akan ada tertulis “aperture blade”. Sementara untuk menjawab kenapa sebaiknya memilih angka f yang besar dan focal length yang lebih pendk, silahkan baca artikel Memahami Angka Aperture Dalam lensa dan Memahami Aperture.

Kalau masih belum jelas, silahkan lihat gambar berikut ini:

Gambar diatas menunjukkan, semakin kecil bukaan (angka f semakin besar), lidah cahaya akan semakin maksimal. Sementara di angka f yang kecil, sumber cahaya tampak tanpa burst sama sekali.

Tips Foto Starburst Malam Hari:

 

  1. Gunakan Tripod – Memotret malam hari dengan angka f yang besar, misal foto diatas dengan f/18, membuat shutter speed akan sangat lama, bfoto diatas 25 detik kenapa?. Jadi pastikan anda memakai tripod agar hasil foto tidak seperti lukisan grafiti.
  2. Perhatikan setting kamera – Untuk jenis foto seperti ini, gunakan angka f yang besar: f/11 atau lebih besar. Set ISO di angka yang rendah, dibawah 400, karena kita akan memotret long exposure. Anda bisa menggunakan mode manual maupun aperture priority, yang jelas perhatikan angka metering kamera. Untuk pemotretan malam hari seperti ada kecenderungan hasil akan over exposure (terlalu terang), jadi pakai exposure compensation angkanya bervariasi tergantung dari lingkungan sekitar, coba pakai under 1 stop sebagai awal dan sesuaikan setelahnya.
  3. Setting Fokus – Dengan angka aperture besar, kita tidak akan terlalu pusing memikirkan fokus, namun kalau mau aman ambil titik fokus secara manual, atau set di infinity.
  4. Manfaatkan highlight alert kamera – anda tahu kan? itu lho peringatan bling-bling yang muncul di LCD saat kita memotret subyek yang terang.
  5. Mulai Memotret – dan jangan malas mengulang dan mengubah setting kalau hasilnya belum sesuai keinginan.
Oke selamat mencoba.

Memahami Angka Aperture Dalam Lensa

Dalam artikel ini kita akan berusaha memahami makna angka aperture dalam lensa, dan kenapa makin besar aperture lensa (angka f makin kecil) makin mahal harga sebuah lensa?

Pernahkah anda bertanya-tanya, dari mana satuan aperture yang biasanya dinyatakan dalam angka seperti ini f/4, f/5.6 atau f/22 (atau juga f4, f5.6 atau f22) berasal? dan kenapa makin besar diameter lensa dan ukuran fisik lensa makin kecil angkanya?



Gambar diatas memperlihatkan perbandingan ukuran fisik antara lensa Canon 50mm f/1.2L dan 60mm f/1.4. Angka yang menyatakan besaran aperture diatas berasal dari perbandingan antara panjang focal lensa dan ukuran diameter lensa:

aperture = panjang focal / diameter

Sebagai contoh, jika kita memiliki lensa 50mm dan ukuran diameter optik bagian depan lensa tersebut 25mm, maka kita memiliki lensa f/2 (atau juga seringkali dinyatakan sebagai f2)

aperture = 50:25 = 2

Jika panjang focal (apa itu panjang focal) lensa 50mm dan diameter lensa 50mm, berarti aperture maksimal lensanya adalah f/1. Di angka f/1, maka diameter lensa 2 kali lebih besar dibandingkan f/2, dan ada perbedaan 2 stop diantara f/1 dan f/2 (masih ingat pengertian stop kan?). Dan lensa f/1 bisa dilewati cahaya 4 kali lebih banyak dibanding lensa f/2 sehingga makin besar aperture makin cepat dan makin enak dipakai di kondisi low light. 

Anda sekarang mulai menyadari kenapa tidak banyak lensa 50mm f/1. Hanya ada sejumput lensa yang memiliki aperture f/1, seperti misalnya Canon EF 50mm f/1.0L USM yang sudah diskontinyu (lihat foto-foto yang dihasilkan dari lensa hebat 50mm f/1 disini). Lensa dengan aperture f1 membutuhkan ukuran body lensa yang buesar, elemen optik yang luas supaya diameternya bisa sama dengan panjang focalnya.


Hal ini juga membantu menjelaskan kenapa ada perbedaan besar dalah hal harga antara lensa yang panjang focal-nya sama namun aperture maksimalnya berbeda. Contohnya, coba bandingkan antara lensa Canon 85mm f/1.2 dan Canon 85mm f/1.8. Lensa canon 85mm f/1.2L dijual dengan harga diatas Rp 20 Juta sementara lensa 85mm f/1.8 harganya sekitar Rp 4 Juta. Kalau kita kembalikan lagi dari rumus diatas, maka untuk menghasilkan lensa 85mm dengan aperture f/1.8, diamater lensa cukup dengan 47mm (85/1.8 = 47.2). Sementara untuk mendapatkan aperture f/1.2, diameter lensa 85mm tadi haruslah sekitar 70 mm, hampir dua kali lebih besar bukan? Makin banyak material, makin banyak optik dan makin susah dibuat = makin mahal.

Foto-foto 17 Agustus Menarik Untuk Inspirasi Anda

Tanggal 17 Agustus besok, bangsa kita akan merayakan hari kemerdakaan ke-67. Karena bertepatan dengan puasa ramadhan, mungkin kemeriahan dan perayaan yang bersifat lomba-lomba di kota dan kampung biasanya diundur atau dimajukan. Nah bagi kita yang gemar menenteng kamera kemana-mana, perayaan kemerdekaan adalah obyek menarik; upacara bendera, lomba panjat pinang, balap karung sampai deretan bendera merah putih di semua tempat.

Bagi anda yang belum pernah mengabadikannya, ini saat yang tepat untuk mencobanya. Siapkan kamera dan carilah acara 17 Agustus-an di lokasi terdekat anda. Sebagai inspirasi, berikut foto-foto yang cukup menarik dengan tema kemerdekaan dan pernak-pernik 17 Agustus.

Rewards oleh Tjetjep Rustandi

Kubawa Merah Putih, Benderaku oleh Cynthia Iskandar

The 66th Indonesia Independence Day oleh Sayid Budhi

The Spirit of Independence Day oleh Firdaus Usman


Independence Day oleh Yadi Yasin

Veteran oleh Mikael Jansson

Langkah Untuk Merah Putih oleh Irawan Yani Putro

We Are Always Happy oleh I gede Lila Kantiana

Padamu Negeri oleh Memet Metz


Merah Putih di Puncak Ciremai oleh Qefy Alghifari

Merah Putihku oleh Adith

300 Panjat Pinang oleh Djamans


Jakarta oleh Marcel Van Beek

Balap Karung… oleh Bebed Praja


Happy Independence Day Indonesia oleh M Reza Faisal

Selamat hari merdeka pembaca, semoga Indonesia kembali bangkit dan makin menakjubkan.
























Canon 80D, Kamera DSLR Crop Pengganti 70D Untuk Fotografer Sekaligus Videografer

Kemarin, 18 Februari 2016, Canon mengumumkan peluncuran kamera DSLR Canon 80D. Kamera ini adlaah penerus dari Canon 70D sebagai kamera APSC kelas menengah (semi pro) di barisan kamera DSLR Canon.


Fitur Utama Canon 80D

Fitur baru paling menonjol pada Canon 80D adalah sistem autofokus yang menggunakan 45 titik fokus dengan jenis cross. Titik fokus jenis cross memang menjanjikan kecepatan dan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan titik fokus jenis biasa serta mampu mendeteksi pola cahaya vertikal maupun horisontal. Sebagai perbandingan, Canon 70D hanya memiliki 19 titik fokus jenis cross.

Canon 80D juga mengandalkan sistem Dual Pixel AF yang sangat berguna saat live view dan mampu mengunci subjek yang bergerak, dua fitur yang sangat berguna untuk para videografer. Canon menggunakan sensor CMOS APSC dengan resolusi 24,2 megapiksel dengan rentang ISO antara 100 sampai 16000 9bisa dikembangkan sampai 25600). Canon 80D juga dibekali dengan pemroses gambar DIGIC 6 sehingga memungkinkan dipakai untuk memotret beruntun dengan kecepatan 6 frame per detik
.
Lihat bagaimana Dual Pixel CMOS AF bekerja:



 Di belakang, Canon 80D menggunakan LCD layar sentuh ukuran 3 inci dengan 1,04 juta titik. LCD layar sentuh ini bisa di buka dan di putar serta di naik-turunkan. Fitur pemanis Canon 80D adalah wi-fi/NFC, merekam video dengan 1080/60p, mode HDR, fitur Time-lapse, serta colokan headphone dan mikrofon yang sudah built-in.



Perbandingan Canon 80D Dengan 70D

Berikut ini perbandingan spesifikasi antara Canon 80D vs 70D

Canon 80D Canon 70D
Resolusi Sensor 24,2 megapiksel 20,2 megapiksel
Titik autofokus 45 cross type 19 cross type
Cakupan viewfinder 100% 98%
Prosesor Gambar DIGIC 6 DIGIC 5+
Shutter Lag 60 milidetik 65 milidetik
Video 1080p 60 fps 1080p 30 fps
Fitur Lain HDR 7 Time Lapse Tidak Ada
Koneksi WI-Fi & NFC Wi-Fi
Jack headphone & mikrofon mikrofon
Encoding MOV dan MP4 Hanya MOV

Harga dan Ketersediaan Canon 80D

 

anon 80D akan mulai beredar secara internasional mulai bulan Maret 2016 dengan harga US$ 1200 (Rp. 16,2 Juta) – body only atau US& 1800 dengan lensa 18-135mm f/3.5-5.6 IS USM. Nantikan kehadirannya di Indonesia selang sebulan kemudian.

Silakan lihat video promo Canon 80D berikut ini:

TIPA umumkan Kamera dan Lensa Terbaik Tahun 2016

TIPA (The Technical Image Press Association) – asosiasi majalah dan publikasi fotografi internasional baru saja mengeluarkan daftar kamera, lensa dan aksesori fotografi terbaik yang diluncurkan dalam 12 bulan terakhir. Rentang produk, dari kamera DSLR kelas pemula, kamera mirrorless kelas pro sampai lensa prime terbaik dipilih oleh seluruh anggota dan mereka yang mendapatkan suara paling tinggi akan dipilih sebagai produk terbaik di kelasnya.
Nikon D500 adalah kamera DSLR APSC terbaik tahun 2016 menurut anggota TIPA
 Berikut ini daftar lengkap kamera terbaik TIPA 2016 untuk berbagai kelas:
  • Kamera DSLR Pemula Terbaik : Sony A68
  • Kamera DSLR APSC Terbaik : Nikon D500
  • Kamera DSLR Full Frame Terbaik : Pentax K–1
  • Kamera DSLR Profesional/Aksi Terbaik : Nikon D5
  • Kamera DSLR Profesional/High Res Terbaik : Canon 5DS
  • Kamera Foto/Video Kelas Pro Terbaik : Canon 1DX Mark II
  • Kamera Mirrorless Pemula Terbaik: Fujifilm X-T10
  • Kamera Mirrorless Kelas Advance Terbaik: Olympus OM-D E-M10 Mark II
  • Kamera Mirrorless Kelas Ahli Terbaik: Fujifilm X-Pro2
  • Kamera Mirrorless Kelas Profesional terbaik: Sony A7R Mark II
  • Kamera Saku Kelas Pemula Terbaik: Canon IXUS 285 HS
  • Kamera Saku Kelas Expert Terbaik: Canon PowerShot G5 X
  • Kamera Fixed Full Frame Terbaik: Sony RX1R mark II
  • Kamera Superzoom Terbaik: Panasonic LUMIX DMC-FZ300/FZ330
  • Kamera Saku Waterproof Terbaik: Olympus Stylus Tough TG–870
  • Kamera Camcorder Terbaik: Panasonic HC-WXF991
  • Kamera Premium Terbaik: Leica SL
  • Kamera Medium Format Terbaik: Phase One XF 100MP
  • Kamera Drone Terbaik: Yuneec Typhoon Q500 4K

Kamera mirrorless full frame terbaik 2016 menurut TIPA adalah Sony A7R Mark II

Sigma 20mm F1.4 DG HSM | Art adalah salah satu lensa terbaik 2016 versi TIPA
  • Lensa DSLR Kelas Pemula Terbaik: Tamron 18–200mm F/3.5–6.3 Di II VC
  • Lensa Tele DSLR Terbaik: Sigma 50–100mm F1.8 DC HSM | Art
  • Lensa Wide Angle DSLR Terbaik: Sigma 24–35mm F2 DG HSM | Art
  • Lensa Prime DSLR Terbaik: Tamron SP 35mm F/1.8 Di VC USD
  • Lensa DLSR Kelas Pro Terbaik: Sigma 20mm F1.4 DG HSM | Art
  • Lensa Mirrorless Kelas Pemula Terbaik: Panasonic LUMIX G 25mm F1.7 ASPH
  • Lensa Mirrorless Tele Zoom Terbaik: Fujinon XF 100–400mm F4.5–5.6 R LM OIS WR
  • Lensa Mirrorless Wide Angle Zoom Terbaik: Olympus M.ZUIKO DIGITAL ED 7–14mm 1:2.8 PRO
  • Lensa Mirrorless Prime Terbaik: Sony FE 85mm F1.4 GM
Sementara produk aksesori fotografi terbaik diantaranya:
Phottix Indra 360 TTL adalah sistem lampu kilat terbaik 2016 versi TIPA
  • Printer foto terbaik: Canon imagePROGRAF PRO–1000
  • Tripod terbaik: Manfrotto 190GO! Carbon Fiber
  • Media penyimpanan terbaik: Toshiba TransferJet SDHC Card
  • Sistem lampu flas terbaik: Phottix Indra 360 TTL Flash System
  • Lampu flash portabel terbaik: Nissin i60A
  • Monitor Foto terbaik: BenQ SW2700PT
  • Software fotografi terbaik: Serif Affinity Photo
Lihat laman resmi pengumuman TIPA di sini.
  •  

7 Trik Fotografi Profesional Menggunakan Kamera Smartphone

Kamera smartphone saat ini bisa katakan sudah menjadi alat yang paling sering digunakan untuk memotret gambar dibanding dengan kamera SLR atau kamera profesional. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin meningkat, kamera smartphone pun kin sudah semakin canggih dengan hasil gambar yang tidak kalah bagusnya dengan gambar yang dihasilkan kamera SLR. Bahkan beberapa kamera smartphone memiliki sensor dan bukaan sama seperti kamera profesional. Sony Xperia Z3 misalnya, smartphone ini memiliki kamera beresolusi 20,7 MP. Atau Samsung Galaxy Note 4 dengan kamera 16 MP yang dilengkapi dengan fitur OIS (Optical Image Stabilization) dan iPhone 6 yang memiliki kualitas kamera di atas rata-rata.

Jika kamu kreatif dan cermat dalam memotret menggunakan kamera smartphone, bukan tidak mungkin gambar yang dihasilkan pun akan terlihat lebih menarik dengan kualitas yang baik. Sekedar berbagi informasi, berikut ini kami hadirkan tips dan trik memotret menggunakan kamera smartphone.

1. Memotret Panorama dengan Objek Orang Ganda


Kamera smartphone kelas menengah ke atas umumnya sudah dilengkapi dengan fitur kamera Panorama. Jika kamu ingin memotret panorama dengan objek atau orang terlihat ganda, caranya saat kamera mengambil gambar dengan 360 derajat, orang yang difoto berpidah tempat dari kiri, ke tengah, lalu ke kanan mengikuti arah gerakan kamera.

2. Memotret Panorama Saat di kendaraan


 Tidak harus memutar kamera 360 derajat, kamu juga bisa memotret Panorama saat di kendaraan. Yang kamu lakukan hanya memasang kamera pada mode panorama, kemudian memotret dengan tangan usahakan harus stabil.

3. Memotret Zoom menggunakan Lensa Binocular (teropong)


Hampir semua tipe smartphone kelas menengah ke atas memiliki kamera yang dilengkapi fitur zoom. Namun, rata-rata fitur yang dimiliki kamera smartphone jaraknya tidak jauh. Selain itu, satu hal yang perlu diperhatikan, memotret menggunakan fitur zoom di kamera smartphone biasanya gambar yang dihasilkan kualitasnya menjadi turun, gambar tidak tajam dan cenderung banyak noise. Menyasati hal ini, Anda bisa memanfaatkan binocular atau teropong untuk menggantikan lensa zoom yang dipasang didepan kamera smartphone.

4. Menggunakan Tetesan Air untuk Memotret Makro


Jika kamu tidak memiliki lensa makro eksternal, kamu bisa menggunakan air yang diteteskan di atas lensa kamera smartphone. Bentuk air yang melengkung bisa jadi pengganti filter lensa makro kamu. Pastikan air tidak masuk kedalam smartphone.

5. Gunakan Penutup Kaca Mobil sebagai Reflektor



Jika tidak ada reflektor yang bisa digunakan untuk kegiatan fotografi profesional, kamu bisa juga menggunakan penutup kaca mobil yang berwarna emas atau perak untuk dijadikan reflektor pengganti.

Pilih Zeiss Milvus, Otus atau Klasik?

Dulunya, lensa Zeiss untuk DSLR cukup sederhana, cuma ada satu keluarga yang kini dinamai Zeiss Classic. Beberapa tahun belakangan, Zeiss lebih aktif dari biasanya dalam mengeluarkan lensa-lensa baru untuk kamera DSLR maupun mirrorless.
Saat ini ada dua keluarga lensa baru, yaitu keluarga Otus (arti: Burung hantu) dan Milvus (arti: Elang).
Nah, karena mulai banyak pilihan, maka mungkin ini cukup memusingkan bagi yang sedang mencari lensa Zeiss baru, terutama spesifikasi lensanya mirip-mirip.
Misalnya di Zeiss Otus ada 55mm f/1.4 dan 85mm f/1.4. Di Milvus juga ada yang mirip, yaitu 50mm f/1.4 dan 85mm f/1.4.
Sebenarnya ada perbedaan yang cukup jelas diantara keluarga lensa Zeiss

Foto Keluarga Zeiss Otus: 28mm, 55mm, dan 85mm. Semuanya berbukaan f/1.4
Zeiss Otus dirancang untuk sempurna di setiap bukaan, termasuk di bukaan terbesar f/1.4. Selain tajam dan siap untuk kamera beresolusi tinggi (50 MP dan bahkan lebih). Otus memiliki desain lensa APO (Apochromatic) sehingga tidak ada chromatic aberationnya. Dalam desain, Otus memiliki barrel/gelang fokus yang lebih mulus dan lebih mudah digerakkan, sedangkan ring manual di Milvus meski mulus, tapi lebih terasa pemberatnya. Menurut saya, bagi yang konsentrasinya murni di fotografi, lebih bagus pakai Otus.

Zeiss Milvus family: 50mm f/2 makro, 50mm f/1.4, 35mm f/2, 85mm f/1.4, 100mm f/2 makro, 21mm f/2.8
 Zeiss Milvus merupakan keluarga lensa baru yang merupakan pembaharuan dari lensa Zeiss klasik. Dibandingkan dengan Otus, Milvus memiliki kelebihan di weathersealing yang sangat ketat. Sehingga saat digunakan di kondisi ekstrim seperti di padang pasir, laut, dll, lensa dan kamera akan tetap aman. Milvus juga lebih ramah terhadap videografer karena memiliki fitur de-click yang memungkinkan pengaturan bukaan yang mulus. Warna juga sudah dikalibrasi supaya hasil foto dan video diantara lensa Milvus sudah sama. Soal performa lensa, sebagian besar lensa Milvus sudah siap untuk kamera resolusi tinggi (36-50MP) atau video sampai dengan 8K. Kelemahannya, koreksi chromatic abberation-nya masih sedikit dibawah Otus di bukaan besar, dan sebagian lebih berat daripada lensa klasik. Soal harga, Zeiss Milvus lebih terjangkau daripada Otus. Dibanding keluarga Zeiss Klasik, Milvus juga dibekali dengan T* coating Zeiss yang baru, membuat foto lebih kontras dan lebih tahan dari flare saat backlighting.

Posisi seal lensa Milvus yang mencegah debu dan air masuk ke dalam lensa.

Tes debu Milvus

Sebagian lensa Zeiss Klasik masih dipasarkan karena jarak fokal lensanya belum tergantikan di Zeiss Milvus atau memiliki desain yang berbeda, contohnya 50mm dan 85mm. Koleksi lensa klasik yang masih tersedia diantaranya 15mm f/2.8, 18mm f/3.5, 25mm f/2, 25mm f/2.8, 35mm f/1.4, 50mm f/1.4, 85mm f/1.4, dan 135mm f/2.

Desain lensa klasik sangat berbeda dengan Milvus dan Otus, terutama di barrel/gelang fokusnya terbuat dari logam bergerigi, bukan dari bahan karet. Ukurannya relatif lebih pendek, dan sedikit lebih ringan karena tidak ada elemen weathershield. Beberapa lensa Zeiss klasik masih sangat baik digunakan di kamera beresolusi tinggi (24-50MP). Saya sendiri memiliki Zeiss 25mm f/2 dan 135mm f/2 dan keduanya saya nilai sangat baik kinerjanya, kualitas gambarnya hanya sedikit dibawah lensa Otus tapi memiliki harga yang jauh lebih murah.



Dua lensa Zeiss Klasik seperti 50mm dan 85mm f/1.4 sudah diperbaharui menjadi Milvus 50mm dan 85mm f/1.4 yang kualitasnya lebih baik dan siap untuk kamera resolusi tinggi.
Tapi jika Anda masih mengunakan kamera beresolusi rendah seperti 12-18 MP, maka lensa ini tidak mengecewakan. Harga lensa Zeiss klasik saat ini masih relatif terjangkau dan kadang-kadang ada diskon yang cukup besar.

Kesimpulan

Pilih Zeiss Otus jika:

  • Konsentrasi di fotografi
  • Ingin hasil foto yang terbaik terutama di bukaan besar
  • Dana tidak masalah
Pilih Zeiss Milvus jika:

  • Selain foto, juga aktif merekam video
  • Perlu lensa yang tahan di kondisi ekstrim
  • Mencari lensa yang harganya pantas “good value”
Pilih Zeiss Klasik jika:

  • Suka desain lensa klasik yang relatif compact
  • Jarak fokal lensa yang disukai tidak ada di Milvus maupun Otus
  • Dana terbatas

Hasselblad X1D – Kamera mirrorless Medium format

Hari ini adalah hari yang cukup menghebohkan dunia fotografi karena peluncuran Hasselblad X1D. Kamera ini merupakan kamera medium format, yang sensor gambarnya berukuran 44 x 33mm.

Sensor medium format ukurannya diatas kamera DSLR/mirrorless full frame (36 x 24mm) dan APS-C (22 x 15mm). Dengan ukuran sensor gambar yang lebih besar, kualitas gambar yang dihasilkan potensial lebih tajam, detail tertangkap lebih baik.




Selama ini, kamera medium format mungkin hanya dikenal oleh para profesional atau amatir yang sangat peduli dengan kualitas gambar terbaik untuk dunia periklanan, fashion, dan sebagainya.
Tapi masih sedikit penggemar fotografi yang belum mengenal sistem medium format ini. Alasannya antara lain ukuran kamera dan lensa yang besar dan harga yang melangit.

Hasselblad melalui X1D, ingin menunjukkan kamera medium format bisa kecil dan gaya juga meskipun harga masih cukup tinggi. Dari fisiknya, Hasselblad X1D ini lebih seperti kamera DSLR atau mirrorless bersensor full frame. Ukurannya 15 x 9.8 x 7.1 mm saja dengan berat 725 gram, kurang lebih seperti kamera DSLR full frame seperti Nikon D610 atau Canon 6D. Lensanya juga terlihat compact yaitu 45mm f/3.5 (ekuivalen 27.2mm di FF) dan 90mm f/3.2 (ekuivalen 55.8mm).

Karena flange back kamera ini yang tipis, maka dengan adaptor bisa dipasangkan dengan banyak jenis lensa. Yang paling cocok tentunya adalah dengan lensa medium format Hasselblad.


Berikut beberapa spesifikasi utama Hasselblad X1D

  • Medium format sensor 44 x 33mm
  • Aspek rasio 4:3
  • 50 Megapixel
  • ISO 100-25600
  • 2.36 Electronic viewfinder
  • Autofokus contrast detect – tidak ada phase detection
  • Leaf shutter, 1/2000 flash sync speed
  • Dual slot memory card (SD)
  • Video 1080/30p
  • GPS built-in
  • Touchscreen
  • Wifi
  • Battery 3200 maH, untuk sekitar 3 jam pemakaian
  • Made in Sweden


Secara desain, kamera ini sangat modern dan enak dilihat, cocok untuk gaya dan dibawa sehari-hari. Tapi yang gak enakin adalah harganya. USD$8995 untuk kamera, USD$2300 (Rp 30 juta) untuk lensa 45mm f/3.5 dan USD 2700 (Rp 36 juta) untuk lensa 90mm f/3.2.

Dibandingkan dengan kamera medium format lain yang kebanyakan untuk profesional, X1D ini membidik fotografer amatir, hobbyist, enthusiasts. Posisi kamera ini agak unik dan tidak ada saingan yang sifatnya head to head. Tapi calon pembeli X1D ini mungkin akan mempertimbangkan sistem Leica S atau SL, Pentax 645Z, atau kamera medium format Hasselblad seperti sistem H5D.




 Sistem kamera ini seakan angin segar bagi fotografer yang menginginkan kualitas kamera medium format dengan ukuran yang mudah dibawa. Kamera ini bisa digunakan untuk kegiatan profesional, tapi sepertinya akan lebih cocok untuk hobi dan gaya. Kesuksesan kamera ini akan bergantung pada kualitas dan pengembangan lensa, software dan aksesoris pendukung sistem ini.

Mencoba Canon 1DX II untuk street photography

Seminggu yang lalu, teman kami dari Datascrip, distributor kamera Canon mendrop kamera sangar Canon 1DX ke Infofotografi untuk kami coba. Sayangnya masa peminjaman cukup pendek yaitu sekitar 1 minggu sehingga kami hanya sempat hunting sebanyak dua kali. Pertama saya pakai untuk street photography di Pekojan dan Muara Angke, dan mas Erwin membawanya saat bukber dan foto hunting konsep model yang hasil reviewnya bisa di detikinet.com





 Kredit foto kamera : Erwin Mulyadi


Kesan pertama saya adalah kamera ini besar dan berat, karena vertical gripnya terintegrasi. Beratnya 1.53 kg termasuk baterai berkapasitas 1000-1200 jepret, tapi menurun jauh saat mengunakan live view untuk memotret yaitu sekitar 260 foto. Saat dipegang ditangan, kesannya kokoh. Banyak tombol-tombol bertaburan sehingga mengurangi keperluan untuk masuk ke menu untuk mengganti setting kamera. Yang agak mengejutkan saya adalah kinerja autofokus live view cepat, kurang lebih hampir sama dibandingkan dengan memotret dengan jendela bidik atau kamera mirrorless.
 
Kualitas gambar 20 MP solid dan berimbang antara speed, resolusi, ISO tinggi. Dynamic range juga oke. Dicoba dengan lensa 16-35mm f/2.8 yang sudah cukup tua (diluncurkan tahun 2007), hasil foto terutama wajah orang agak soft, tapi secara keseluruhan masih enak dilihat. Sebagai kamera DSLR untuk profesional, Canon 1DX II menurut saya memberikan peningkatan yang sangat baik. Beberapa yang masih terasa kurang adalah konektivitas karena tidak ada Wifi built-in, mesti mengunakan aksesoris tambahan. Dan yang paling terasa bagi saya yaitu suara shutter dan mirror yg keras.

ISO 100, f/8, 1/320 detik, 23mm

ISO 1000, f/2.8, 1/80 detik, 33mm

Dalam workshop street photography seputar Jakarta, pengalaman saya dalam mengunakan kamera ini agak campur baur. Saya menyukai kualitas gambar dan kecepatan autofokus dan kinerja kamera secara umum, tapi saya merasa agak keberatan untuk street photography meskipun saya sudah berupaya mengunakannya dengan lensa yang berukuran kecil seperti Canon 50mm f/1.8 STM. Memang seharusnya kamera semacam ini tidak dianjurkan untuk street photography, tapi bukan berarti tidak bisa he he he..

ISO 1000, f/7.1, 1/60 detik, 32mm

ISO 100,  f/2.8, 1/160 detik, 35mm
Kelebihan dan kelemahan Canon 1DX II
+ Kokoh
+ Kinerja cepat
+ Banyak tombol akses cepat
+ Live view cepat, autofokus tracking di live view jg cepat
+ Kapasitas baterai cukup bagus
+ Jendela bidik besar
+ Kualitas gambar bagus disegala kondisi cahaya
+ Dual Card slot (CF dan CFast)
+ Charger bisa mencharge dua baterai sekaligus
+ Autofokus dan metering baru yang lebih “pintar” bisa mengenali wajah
– Besar dan berat
– Suara shutter dan cermin berisik
– Distribusi titik autofokus tidak memenuhi layar
– Fungsi touchscreen terbatas di live view saja

ISO 640, f/6.3, 1/160 detik, 20mm

Kondisi backlighting bisa dihandle dengan baik. ISO 100, f/9, 1/80 detik, 20mm

Demikian hasil uji coba kamera ini dan saya merasa kamera ini paling cocok untuk fotojurnalis yang menghadapi medan yang ekstrim seperti di kondisi perang, kondisi cuaca ekstrim, atau yang membutuhkan kamera berkinerja tinggi untuk membekukan gerakan yang cepat. Jenis fotografi lain yang oke menurut saya adalah wedding photography, terutama liputan atau prewedding yang mengincar momen-momen candid.
Spesifikasi dan fitur baru Canon 1DX II bisa dibaca di artikel ini. Harga kamera ini saat ini Rp 75.575.000 body only.

Ads Inside Post